Daily Bible Devotion, 20 November, Ezekiel 12 ( Yehezkiel 12),” The Rebellious people, Umat Sang pemberontak”

Ezekiel 12:1-3 (ASV) The word of Jehovah also came unto me, saying,
Son of man, thou dwellest in the midst of the rebellious house, that have eyes to see, and see not, that have ears to hear, and hear not; for they are a rebellious house.
Therefore, thou son of man, prepare thee stuff for removing, and remove by day in their sight; and thou shalt remove from thy place to another place in their sight: it may be they will consider, though they are a rebellious house.

Yehezkiel 12:1-3 (TB) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:
“Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.
Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak.

Pada jaman Nabi Ezekiel , tingkah laku bangsa Israel sudah sangat keterlaluan, mereka terus menerus memberontak dari pimpinan Tuhan dan memilih jalan mereka sendiri yang ujungnya membawa petaka.

Ciri ciri umat pemberontak adalah ; mereka mendengar pesan Tuhan, firman Tuhan tetapi menolak untuk menerima dalam hati bahkan menentangnya, mereka melihat tetapi pura – pura tidak melihat atau menyangkal apa yang mereka lihat, karena hati mereka penuh dengan pemberontakan, mereka umat yang anti otoritas dalam hidupnya.

Jika mereka tunduk pada Otoritas haruslah dengan kekerasan atau intimidasi, tidak mempunyai kerendahan hati untuk menundukkan diri dengan sukarela, ini bagian dari mental budak dalam diri manusia.

Pembaca terkasih , sebagai anak – anak Allah kita sudah dimerdekakan dari segala perbudakan, dan sudah ditebus dijadikan anak – anak Allah. Hubungan kita dengan Tuhan sebagai otoritas adalah kita mengasihi Tuhan sebagai Bapa kita, dan kita taat dengan sukarela karena mengasihi Bapa kita dan mengetahui dengan pasti bahwa ketetapan firman Tuhan dan pimpinan Tuhan adalah yang terbaik bagi kehidupan kita, jauh lebih sempurna dari keinginan ego kita pribadi.

Leave Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *